Cara Budidaya Tanaman Temu Ireng Untuk Pemula

Berikut ini akan kami jelaskan tentang gimana sih “cara budidaya tanaman temu ireng”.. Yuk monggo disimak.

Cara Budidaya Tanaman Temu Ireng Untuk Pemula
Cara Budidaya Tanaman Temu Ireng Untuk Pemula

Persiapan lahan untuk penanaman :

  • Bersihkan lahan yang akan dipakai dari gulma dan cangkul sedikit hingga tanah memiliki kedalaman 20 hingga 30 cm guna memperbaiki struktur tanah.
  • Biarkan lahan tersebut selama satu minggu seusai pengolahan.
  • Lakukan pemupukan tanaman dengan menggunakan pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 15 hingga 20 ton per hektarnya (tabur dengan merata di lahan).
  • Buatlah bedengan yang ukuran lebarnya 2 m dan sesuaikanlah panjangnya dengan kondisi lahan yang dipakai. Tinggi bedengan biasanya sekitar 25 sampai 45 cm dan aturlah jarak antar bedengan pada kisaran 30 hingga 50 cm.

Baca Juga : Morfologi Tanaman Kayu Putih

Pembibitan untuk tanaman temu ireng :

Tanaman temu hitam (temu ireng) dapat diperbanyak dengan menggunakan bagian rimpang ataupun memisahkan anakanya dari rumpun.

Dengan menggunakan bagian rimpang :

  • Semai bagian rimpang temu hitam dengan cara ditutupi tanah sedalam kurang lebih 10 sampai 15 cm di tempat yang teduh dan juga
  • Siram persemaian tadi pada pagi dan sore hari serta jaga agar ia tetap lembab.
  • Saat tunas terlihat, potong-potong lah rimpang tersebut dengan ukuran yang cukup besar. Tiap rimpang sebaiknya tersusun atas 2-3 mata tunas.
  • Angin-anginkan sedikit rimpang pada tempat yang teduh selama kurang lebih 2 hari sebelum waktu

Dengan menggunakan anakan

  • Pisahkan bagian anakan dengan cara menggali tanah pada sekitar anakan.
  • Potong sedikit rimpang yang menghubungkan anakan tersebut dengan induk anakan yang telah dipisahkan agar dapat langsung ditanam.

Penanaman untuk tanaman temu ireng :

  • Buatlah beberapa lubang tanam dengan jarak tanam masing-masing 25 cm x 45 cm (dalam satu shaff 25 cm, dan antar shaff 45 cm). Kedalaman lubang tanam tersebut dibuat sekitar 20 cm.
  • Biarkan lubang itu terbuka selama kurang lebih 1 minggu.
  • Masukan bibit tanaman dengan posisi tunas yang tegak, kemudian timbunlah hingga rata dengan tanah.

Pemeliharaan tanaman temu ireng :

  • Lakukanlah penyulaman selama 2 minggu sesudah masa penanaman bilamana ada tanaman yang mati.
  • Apabila akar atau bagian rimpang terlihat sampai muncul di permukaan, lakukanlah upaya pembumbunan.
  • Lakukanlah teknik penyiangan dengan hati-hati dan disarankan dilakukan secara manual.
  • Berikan pupuk susulan setelah tanaman tersebut berumur 6 bulan. Lakukan pemupukan tanaman setelah penyiangan.
  • Apabila tidak turun hujan, lakukanlah sistem leb untuk melakukan pengairan (genangi bedengan dengan menggunakan air).

Pengendalian hama penyakit untuk tanaman temu ireng :

  • Musnahkanlah tanaman tersebut dengan cara melakukan pemotongan dan membakarnya agar supaya hama yang berupa ulat Kerana diocles tidak menyebar.
  • Kendalikanlah secara manual apabila jumlah hama masih sedikit.
  • Lakukanlah penyemprotan untuk menangani hama apabila serangan hama semisal tadi sudah meluas. Sedapat mungkin gunakanlah pestisida nabati. (Anda bisa membuatnya dengan mengekstrak tumbuhan daun sirsak, serbuk biji mimba yang dicampur dengan ekstrak brotowali).
  • Lakukanlah penyemprotan hama saat pagi (sebelum waktu matahari terbit) atau sore hari. Anda bisa juga membuatnya dengan mengambil bahan dari rimpangnya, kemudian ditumbuk halus dengan dicampur menggunakan air kencing sapi. Campuran ini kemudian diencerkan menggunakan air dengan perbandingan 1 : 2 – 6 liter. Gunakan racikan alami ini untuk mengendalikan berbagai jenis serangga yang berpotensi menjadi penyerang tanaman.

Pemanenan tanaman temu ireng:

Temu-temuan adalah tanaman semusim dengan umur kurang lebih sembilan bulan. Di daerah Jawa, temu-temuan ini selalu tumbuh di awal musim penghujan, yang biasanya jatuh sekitgar periode bulan Oktober.

Tanaman ini akan dapat menghasilkan umbi yang bisa dipanen hasilnya pada bulan Mei ataupun Juni. Namun, kualitas umbi yang sangat baik hanya mampu kita peroleh dari panen umbi yang dikerjakan saat periode bulan Juli.

Saat di periode itu daun serta batang semu tanaman telah mengering, ketuaan umbi juga dapat kita lihat dari penampilan si rimpangnya sendiri. Rimpang yang telah tua memiliki penampilan gemuk, padat dengan sisik-sisik rimpang yang melingkarinya telah mengering.

Dari serumpun tanaman, akan bisa menghasilkan panen bongkahan rimpang yang dapat langsung kita pecah-pecah menjadi 4 sampai 5 bagian. Para petani lumrahnya menyeleksi bagian rimpang yang masih cukup baik untuk benih.

Ciri dari rimpang yang baik tersebut selain ditentukan oleh ukuran diameter dan panjang, juga dilihat dari aspek tingkat ketuaan dan ada atau tidaknya cacat.

Sekian dulu yaa.. Terimakasih, see you next post!

Baca Juga : Klasifikasi Dan Morfologi Tanaman Pepaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *